Kamis, 25 Maret 2010

Anak: antara Rokok dan Shalat

“Bu, Bapak dimana?”, tanya Iwan. “Ada di atas!” Iwan naik ke atas, tiga kali salam, sang bapak tidak menjawab. Ternyata, kedua telinganya disumbat karena asyik dengan musik, tangan kanan sibuk SMS-an, tangan kiri bolak-balik ke bibir MEROKOK!

Lain hari,”Bu, Bapak mana Bu? Iwan kangen!”. “Tuh…, di samping”, jelas ibunya. Tiga kali salam, juga tidak disambut sang ayah. Koq? Lagi sibuk betulin motor, kedua tangannya blepotan oli, sedangkan bibirnya tersandera oleh sebatang rokok yang nyantel.

Jam 3 pagi, Iwan kebelet ingin pipis, tiba-tiba ia dengar suara, “GOALLL!”, sang ayah asyik nonton bola, sementara asap rokok mengepul ke atas langit-langit. Iwan sempet melirik asbak di atas meja, sudah penuh dengan puntung rokok.

Lain halnya dengan Andi. Suatu pagi Andi kangen dengan ayahnya, lalu dicarinya ke lantai atas. Setelah kasih salam 3 kali, ayahnya tidak membalas, tentu saja, karena ayah sedang shalat. “Bu, ayah telat ya shalat shubuhnya,” protes Andi. “Kata ayah waktu shubuh habis bila matahari mulai terbit.” “Ayahmu shalat dhuha, nak!” jelas ibu. Lain waktu, Andi acap kali menjumpai ayahnya duduk di sajadah sedang membaca Al-Qur’an. Tengah malam Andi terbangun, ingin ke belakang, begitu sampai ruang tengah dia dengar dan menyaksikan,”Ya Alloh,. Jadikanlah anakku Andi, menjadi anak shaleh, pintar, jujur dan berbhakti kepada ibu bapaknya.” Iapun jalan pelan-pelan menuju kamar mandi. Paginya ia Tanya kepada ayahnya,”Yah, tadi malam shalat apa?” “Shalat tahajud, nak,” jelas sang ayah.

Kira-kira menurut Anda cerita mana yang lebih sering ditemui oleh anak-anak kita? Hampir 2000 orang ditanya, 100% menjawab bahwa anak-anak lebih sering melihat orang tua merokok di sekitar mereka, ketimbang menyaksikan sedang shalat. Jika demikian, ke depan jumlah perokok akan semakin lebih banyak dibandingkan mereka yang shalat. Na’udzubillah…

Orang tua perokok dengan penuh kesadaran memberi contoh kepada anak-anaknya kebiasaan merokok dari kecil hingga dewasa, menghabiskan ratusan juta, badan menjadi sakit, anak telantar, istri memendam rasa kecewa puluhan tahun, sementara kewajiban syariat lain ditinggalkan. Para orang tua perokok mestinya dapat bonus dari perusahaan rokok, sebab pengusaha tidak perlu beriklan lagi, cukup via orang tua yang setia mengkader anaknya menjadi perokok.

Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk mengkader anak menjadi shaleh/shalehah, dengan mengontrol shalat dari usia 7 s/d 10 tahun. Pesan ini sangat jarang dilaksanakan oleh orang tua, padahal perintah ini mendapat pahala dari Alloh SWT.

Sungguh tak terbayangkan jika di setiap sudut, anak dan remaja kita terlihat bergerombol sementara tangan kirinya mengapit rokok. Apa jadinya Indonesia-ku tercinta 25 thn mendatang???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar